Artikel Populer

Rabu, 15 Oktober 2008

INFORMATION LITERACY 1

SEBUAH TANYA JAWAB MENGENAI LITERASI INFORMASI

Literasi informasi? Apa itu?
Banyak orang sering bertanya-tanya mengenai hal yang kelihatannya "canggih" ini. Walaupun terdengar canggih, sebenarnya Literasi informasi sendiri sifatnya tidak se "kompleks" yang kita kira. Faktanya, kita merasa istilah ini canggih karena istilah ini masih merupakan istilah yang baru dalam dunia informasi di Indonesia. Berikut diberikan beberapa penjelasan mengenai konsep Literasi Informasi ini dalam bentuk tanya jawab.

Apakah sebenarnya definisi literasi itu sendiri?
International Literacy Institute (2002), mendefinisikan bahwa literasi merupakan sebuah keahlian dalam jangkauan yang relatif, untuk membaca, menulis, berkomunikasi dan berfikir secara kritis.

Sedangkan Amstrong, dan Warlick(2004) menyebutkan keahlian baru sebagai 4E:
1. Exposing knowledge : membaca
2. Employing Information : berkaitan dengan nilai aritmatika sebuah informasi dengan menggunakan angka.
3. Expressing Ideas : menulis
4. Etika : menilai benar salah sebuah informasi dalam berbagai konteks sosial.

UNSECO (2002), menjelaskan beberapa Literasi yang dipetakan dengan kemajuan teknologi:
1. Literasi teknologi : keahlian menggunakan internet.
2. Literasi Informasi : Keahlian meriset dan menganalisa informasi untuk mengambil keputusan.
3. Literasi Media: Keahlian untuk membuat mendistribusikan serta mengevaluasi isi media AV.
4. Literasi global: Pemahaman akan keterkaitan antar manusia dan kemampuan untuk berpartisipasi secara global.
5. Literasi untuk memiliki kompetensi sosial dan tanggungjawab: kesadaran akan kebutuhan keamanan dan privasi berkaitan dengan penggunaan internet.

Dari berbagai pemahaman diatas, apakah pengertian Literasi Informasi?
Literasi informasi secara singkat adalah sebuah keahlian untuk mengenali kebutuhan informasi, menemukan informasi yang terbaik sesuai dengan kebutuhannya, menggunakan, mengkomunikasikannya, serta mengevaluasinya.

Apakah ada model-model yang dapat membantu kita dalam melatih keahlian Literasi Informasi tersebut?
Ya, ada banyak sekali (lebih dari 30) model Literasi Informasi didunia yang telah dirumuskan oleh para pakar informasi. Beberapa diantaranya yang sangat banyak dipergunakan adalah :
  1. The Big6
  2. Carol Kulthau
  3. Strippling and Pitts
  4. The 8Ws
  5. The Seven Pillars
  6. The Empowering 8
  7. Kulthau
Apa saja keahlian yang dibutuhkan dalam Literasi Informasi tersebut?
Seperti definisi International Literacy Institute diatas, keahlian dalam sebuah literasi bersifat relatif. Karena itu, semua keahlian dibawah ini tidak bersifat mutlak dan bisa berbeda-beda pada setiap orang sesuai konteks yang berbeda.

Kita contohkan saja dengan menggunakan model Big6, maka keahlian yang di butuhkan untuk dimiliki adalah:

Step 1 : Task Definition, membutuhkan keahlian menentukan topik, brainstorming, dan membuat Research question.

Step2 : Information Seeking Strategies, membutuhkan keahlian diantaranya pengenalan bahan pustaka dan jenis-jenis sumber informasi.

Step 3: Location and Access, membutuhkan keahlian diantaranya : Internet literacy, web evaluation dan penggunaan indeks.

Step 4: Use of Information, membutuhkan keahlian diantaranya untuk membaca cepat, menulis, membuat resume, mengutip, parafrase.

Step 5: Synthesis, membutuhkan keahlian diantaranya untuk menulis, lay-outing, penulisan blog, presentasi.

Step 6: Evaluation, membutuhkan keahlian diantaranya mengevaluasi hasil dan proses pencarian informasi tersebut, dan refleksi terhadap seluruh proses yang sudah dilakukan.

Secara singkat, demikian penjelasan mengenai pengertian dari Literasi Informasi dan berbagai keahlian dasar yang harus diajarkan kepada siswa agar mereka memiliki keahlian dalam memenuhi kebutuhan akan informasi mereka secara mandiri dan berpotensi untuk menjadi pembelajar seumur hidup (Independent Learner).




Selasa, 09 September 2008

LIBRARY CELEBRATION

FROM LIBANEV(Library Annual Event 2008)
The Johannes Oentoro Library



Posted by Picasa

MEMULAI PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN 1

BUDAYA MEMBACA
Memulai sebuah perpustakaan bukanlah suatu hal yang sulit, namun juga bukan merupakan hal yang mudah. Apapun masalahnya, setidaknya ada satu hal penting yang harus menjadi modal utama bagi seorang pengelola perpustakaan ataupun taman bacaan. Apakah itu?...ya, modal utama yang harus dimiliki oleh seorang pengelola perpustakaan adalah dia haruslah CINTA MEMBACA. Karena, bagaimana seseorang bisa mengajak orang untuk membaca jika dia sendiri tidak suka membaca. Memang sulit sekali untuk memelihara atau mengembangkan dunia membaca ditengah-tengah budaya yang "instan" sekaang ini.

Budaya instan yang sekarang meraja bukan hanya sekedar omongan atau iklan. Banyak makanan ataupun minuman yang bersifat "instant". Mie Instant, susu instant, kopi instant, dll, menyebabkan para konsumennya untuk tidak melalui proses yang panjang lagi untuk mendapatkan produk akhir yang siap dinikmati. Untuk membuat kopi, seseorang tidak perlu lagi membuat kopi dengan cara menumbuk kopi, menyaring kopi dan sebagainya. Yang diperlukan hanya sebuah gelas berisi air panas dan 1 buah sachet kopi siap hidang. Tuang..., aduk....lalu, glekkk! Nikmat..cepat...dan praktis.

Demikian juga dengan membaca! Banyak orang, apalagi anak-anak muda yang sudah tidak bisa lagi menikmati kegiatan membaca. Untuk mendapatkan informasi, orang lebih suka pergi kemuka komputer (mungkin laptop karena bisa di ajak jalan-jalan), kemudian membuka sebuah alamat ajaib yang bisa menjawab apapun pertanyaan kita. Alamat ajaib itu seringkali disebut Google.com! Kemudian mengetik satu kata saja..., kemudian mengetik tombol ajaib yang bernama ENTER! Maka hasilnya...keluarlah ribuan hasil berisi informasi apa yang kita cari.

Jika seseorang menginginkan hiburan, maka mereka tinggal melihat jadwal film yang akan diputar di bioskop bahkan dari PDA atau handphone mereka, kemudian membeli tiket dengan handphone mereka. Apabila jam tanyangnya sudah tiba, mereka tinggal datang dan menonton filmnya. Ketika mereka mau menikmati karya-karya besar pengarang dunia seperti Midsummer night dream-nya Shakespeare, Oliver Twist-nya Charles Dickens, Wuthering Height-nya Emily Bronte, The Lord of the Ring-nya-Tolkien, Harry Potter-nya Rowling, Narnia-nya C.S. Lewis, dst.....Mereka lebih memilih menonton filmnya dari pada membaca bukunya. Apalagi ketika melihat buku asli J.R.R Tolkien yang sangat tebal, wah tak pelak lagi niat mereka untuk membaca menjadi redup.

Nah..gaya hidup instant inilah yang sebenarnya banyak mengikis kebiasaan generasi muda saat ini untuk tidak membaca. Mereka lebih suka menerabas untuk mendapatkan informasi dengan menghindari membaca. Mereka lebih suka bertanya daripada membaca tanda. Buktinya, biasanya ketika kita ada di restoran yang sudah memampang menupun, seringkali kita masih bertanya, "mas, menunya apa ya?" atau seringkali kita bertanya "mana ruangan praktek dokter anu?" daripada melihat direktori ruangan atau tanda didepan ruang praktek dokter tersebut.

Itulah buktinya kita belum membudayakan cinta membaca. Karena itu, maka para pengelola perpustakaan atau taman bacaan harus memiliki modal utama yaitu cinta membaca. Percayalah...kebiasaan atau kebiasaan cinta membaca ini sama seperti kebiasaan-kebiasaan lain memiliki nature yang sama, yaitu, mudah ditularkan kepada orang lain. Nah penularan inilah yang seharusnya jadi misi utama bagi seorang pengelola perpustakaan dan taman bacaan. Misi perpustakaan atau TB itu bisa dikatakan berhasil jika beberapa waktu setelah perpustakaan itu dibuka, semakin banyak orang yang ikut memiliki keinginan untuk membaca.

Jadi.....teruslah membaca, dan jadilah penular-penular yang baik bagi kecintaan membaca. Semoga kita bisa membangun komunitas cinta membaca walaupun dalam konteks unit perpustakaan atau Taman bacaan yang paling kecil sekalipun. Jika memang mungkin untuk dilakukan, kenapa tidak???